URGENSI AS-SUNNAH AN-NABAWIYAH I


URGENSI AS-SUNNAH AN NABAWIYAH

Dr. Dasman Yahya Ma`ali, M.A.

dalam Seminar Hadits di Islamic Book Fair 2010,

Senayan, Jakarta

Kamis, 11 Maret 2010

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Pendahuluan

Sesungguhnya Allah Ta’ala, tatkala menciptakan manusia, diciptakan-Nya pula segala sesuatu dan hal yang dibutuhkan oleh mereka. Kebutuhan tersebut ada yang berkaitan dengan kebutuhan untuk hidup yang disebut kebutuhan jasmani, dan ada pula kebutuhan yang berhubungan dengan tujuan hidup yaitu yang disebut dengan kebutuhan rohani. Kedua-dua kebutuhan ini sangat penting dan mendasar. Dan demi kelangsungan hidup makhluk, Allah ciptakan bumi dengan segala perbendaharaan yang ada padanya sebagai rezki yang cukup untuk semua penghuninya.

وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها ويعلم مستقرها ومستودعها. كل في كتاب مبين (هود: 6)

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. QS. Huud: 6

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan kedua, Allah berikan pula kepada akal dan ilmu pengetahuan yang dengannya manusia mengenali tujuan hidupnya. Namun, dengan mengenali tujuan, belum tentu sese-orang mengetahui jalan dan cara agar sampai ke tujuan tersebut. Oleh sebab itu, Allah tidak membiarkan hamba-Nya terombang-ambing dan kebingungan di perjalanan. Allah lalu memberi mereka petunjuk jalan yang benar-benar dapat dipercaya.

Dia menjadikan petunjuk tersebut melalui dua hal:

Pertama: melalui fitrah.

Allah telah menciptakan manusia di atas fitrah/ Islam, beriman dan menyerah kepada Allah. Semua manusia diciptakan dengan fitrah ini tanpa kecuali. Allah  Ta’ala berfirman:

قأقم وجهك للدين حنيفا. فطرت الله التي فطر الناس عليها. لا تبديل لخلق الله. ذلك الدين القيم ولكنّ أكثر الناس لا يعلمون

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetap-lah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. QS. Ar Ruum: 30

Dalam hal ini, Rasullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

(( مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه)). رواه البخاري ومسلم

“Tiada satupun bayi yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah (Islam), sehingga kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani ataupun Majusi”. HR. Al Bukhary dan Muslim

Dari kedua ayat dan hadits di atas, jelas sekali bahwa pada dasarnya semua manusia terlahir dalam keadaan Islam, yaitu fitrah. Sebab, kalaulah fitrah bukan Islam, tentu Nabi SAW menambahkan: “Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya …… Islam”.

Demikianlah sesungguhnya Allah menciptakan manusia, selama fitrah tersebut  masih suci, bersih dan tidak terkontaminasi, pasti seorang anak manusia cenderung menerima Islam.

Kedua: Hidayah Allah haturkan melalui wahyu yang disampaikan kepada para nabi dan rosul yang diutusnya. Mereka diutus Allah dan dipilihnya untuk menyampaikan firman-firman, aturan-aturan dan hukum-hukumnya. Diutusnya para nabi dan rosul tersebut adalah sebagai bentuk keadilan Allah dan sebagai hujjah-Nya kepada hamba-hamba-Nya di saat Dia melakukan perhitungan kelak terhadap amal-amal yang telah mereka perbuat di dunia.

Allah mengutus para nabi dan rasul tersebut sebagai penjelas dan penerang maksud Allah kepada hamba-hambaNya. Untuk itu Allah memberikan wahyu lain kepada mereka berupa hadits atau sunnah. Allah mengutus para nabi dan rasul tersebut dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, karena manusia dengan segenap kelengkapan pencipta-annya; akal yang cerdas, pemahaman yang dalam, analisa yang tajam dan otak yang brilian, tanpa bimbingan wahyu Al Quran dan hadits, tetap saja tidak mampu mencerna dan mengetahui dengan pasti dan benar apa yang dihendaki Allah dari hamba-hamba-Nya. Mereka selamanya akan ber-selisih paham, karena memang tingkat penalaran seseorang akan berbeda dari penalaran yang lain. Inilah ciri khasnya sesuatu yang datang dari selain Allah. Allah berfirman:

أفلا يتدبرون القرآن. ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلفا كثيرا. (النساء: 82)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertenta-ngan yang banyak di dalamnya.” QS. An- Nisaa’: 82

Maka untuk meredam berbagai perselisihan dan perbedaan tersebut, Allah mengutus para nabi nabi dan rasul untuk menyatukan pemahaman dan persepsi. Setiap nabi diutus khusus kepada kaumnya. Namun, nabi kita, karena beliau adalah nabi penutup dan terakhir, maka beliau diutus untuk segenap manusia. Beliau yang datang menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang diinginkan Allah dari hamba-hamba-Nya. Beliau belum diwafatkan kecuali setelah agama ini sempurna disampaikan dan dijelaskannya. Allah berfirman:

Š اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا (المائدة : 3)

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” QS. Al Maa-idah: 3

Pada generasi awal umat Islam, tidak ada perbedaan di kalangan umat bahwa dasar utama beragama adalah firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Mereka sepakat mengembalikan segala permasalahan yang mereka perselisihkan kepada keduanya, karena memang demikianlah perintah Allah.  Allah berfirman:

ياأيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولى الأمر متكم. فإن تنازعتم في شيء فردّوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الأخر. ذلك خير وأحسن تأويلا (النساء: 59)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri (umara’ dan ulama) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. QS. An-Nisaa’: 59

Demikian pula generasi sesudah sahabat (tabi`in), mereka juga sama. Oleh sebab itu, pertanyaan yang selalu mereka lontarkan kepada sahabat; “Bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan dalam masalah ini? Bagaimana sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam situasi ini?”, dan seterusnya.

Dan orang-orang sesudah merekapun, yang tetap berdiri di atas jalan kebenaran juga mengikuti metode ini. Namun di saat ilmu kurang diminati, ulama kurang dihormati dan para penyeru kebenaran diwanti-wanti, terjadilah berbagai perbedaan dan perselisihan di kalangan umat, sehingga orang yang tidak berilmu tampil sebagai ulama, orang yang tidak berkompeten berbicara tentang agama tampil berbicara dan orang-orang yang seharusnya diam berani pula berkomentar bahkan berfatwa, persis seperti yang diperingatkan Nabi shallallahu `alaihi wasallam dalam haditsnya:

((إِنَّ الله لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوْسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا)). رواه البخاري ومسلم.

“Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya dari hamba-hamba-Nya. Akan tetapi ia mengambil ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga bila tidak ada lagi seorang ulama yang tinggal, manusia menjadikan orang-orang jahil sebagai pemuka. Mereka lalu ditanya, kemudian menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat lagi menyesatkan”. HR. Al-Bukhary dan Muslim

Kondisi ini dipandang oleh para musuh Islam dari kalangan kafirin dan musyrikin sebagai peluang emas untuk semakin menjerumuskan umat ke jurang perbedaan yang semakin dalam dan terjal. Mereka berusaha keras dan mengeluarkan biaya besar guna mendidik dan mengkader para pemuda dan tokoh muslim untuk menjauhkan mereka dari nash-nash Al Quran dan hadits, atau, minimal, walaupun masih memakai keduanya, namun mesti dipahami jauh dari yang diinginkan Al Quran dan hadits itu sendiri.

Nah, demi menyelamatkan umat dari kancah perselisahan, penyesatan sistematis dan pertengkaran yang tak berkesudahan yang akan menghanguskan mereka, perlu adanya usaha-usaha intensif dari kita kaum muslimin dalam setiap level dan di segenap lini, untuk menjelaskan kepada umat bagaimana seharusnya mereka berhadapan dengan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah. Di samping itu, menjelaskan kepada umat kesesatan dan penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang terpedaya dan tidak mau belajar Islam kepada ulama kaum muslimin, tetapi sebaliknya belajar kepada orang-orang kafir dan musyrik yang tidak percaya kepada Islam, dengan alasan objektifitas ilmiah. Sejak kapan orang-orang kafir itu objektif dan jujur menilai Islam? Walaupun ada segelintir mereka yang jujur, tentu akan sama atau mirip hasil kajian dan penelitiannya dengan ulama kaum muslimin.

Apa yang penulis ingin tuangkan dalam tulisan ini adalah sebagian dari usaha kita untuk menyegarkan dan menyadarkan umat pada pemahaman shahih, yang -insya Allah- diridhai Allah dan sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, tanpa mengabaikan pula objektifitas ilmiah. Semoga bermanfaat.

Jakarta,

Kamis, 11 Maret 2010

MUTIARA KATA


“Awal kegagalan adalah ketika anda berusaha mendapatkan pengakuan dari semua orang”

 “Kegagalan bukanlah ketidaksuksesan di saat mencoba, tapi kegagalan yang sesungguhnya adalah di saat anda tidak pernah mau mencoba”

 “Kehidupan yang tidak akan pernah berhenti adalah hidup itu sendiri sementara kematian pada akhirnya akan mati”

“Di dunia kampus belajar dulu baru ujian, tapi di kampus dunia diuji dulu setelah itu baru ditarik pelajaran”

“Jika anda merasa kelebihan waktu maka anda adalah pemalas”

“Motivasi tidak akan pernah mengajak anda untuk berfikir tidak realistis”

 “Orang hanya akan mengingat kualitas inovasi anda, dan mereka akan melupakan berapa lama waktu yang telah anda habiskan untuk itu”

“Waktu anda adalah diri anda sendiri, ketika anda tidak menghargai waktu berarti anda tidak menghargai diri anda sendiri”

PENGORBANAN Oleh : Helmi Basri, Lc. M.A.


Ketinggian derajat seseorang di sisi Allah TA’ALA  tergantung kepada pengorbanan yang ia sumbangkan atas nama Allah, semakin banyak sumbangan pengorbanannya maka akan semakin tinggi derajatnya di sisi Allah TA’ALA, dan sebaliknya semakin tidak memiliki pengorbanan maka akan semakin tidak ada harganya di mata Allah. Yang saya maksud dengan pengorbanan di sini mencakup apa saja asalkan bisa mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan baik bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri, bisa harta, jiwa, waktu dan juga tenaga. Ketika seseorang telah dengan rela mengorbankan harta, jiwa, waktu atau tenaganya untuk kebaikan bersama maka di saat itu ia telah menjadi orang yang terbaik di sisi Allah TA’ALA, begitulah kata Rosulullah SHALLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM.

            Pengorbanan merupakan hal yang sangat prinsip dalam ajaran Islam, oleh karenanya bisa dipastikan bahwa dalam setiap amal kebaikan yang terlaksana pasti ada sesuatu yang dikorbankan oleh sipelaku yang akan dirasakan manfaatnya oleh orang lain, dan begitu juga setiap kali kemaksiatan dilakukan pasti ada hak orang lain yang terkorbankan oleh sipelaku. Dengan demikian dalam berbuat baik jangan selalu mempersoalkan besar kecilnya bentuk perbuatan, karena yang akan dinilai oleh Allah TA’ALA adalah bobot atau kwalitas pengorbanan yang diberikan, bukankah dalam sebuah hadits pernah dikatakan oleh Rosul bahwa satu dirham bisa mengalahkan  pemberian seratus dinar, sebabnya adalah karena yang memberikan satu dirham ternyata ia hanya memiliki dua dirham saja dan ia telah menyumbangkan separoh dari hartanya, sementara yang memberikan seratus ia masih memiliki ribuan dirham lainnya, sehingga kualitas pengorbanannya tidak seberapa. Oleh karena itu jangan pernah merasa minder ketika melakukan kebaikan yang mungkin di mata orang lain kelihatan kecil dan sepele, sebaliknya janganlah pernah merasa bangga dalam melakukan kebaikan yang mungkin besar di mata orang lain.

            Begitu juga halnya dengan kemaksiatan, jangan meremehkan kecilnya sebuah dosa dan kesalahan, tapi bayangkanlah besarnya hak orang lain yang akan terkorbankan oleh perbuatan yang tadi dianggap kecil. Mengucapkan kata « ah » kepada orang tua sepintas adalah perbuatan yang kecil dan sepele, akan tetapi dengannya seseorang telah mengorbankan perasaan orang tuanya, oleh karena itulah alquran melarangnya.

            Ada satu hal harus kita tanamkan dalam jiwa yaitu “ anggaplah dalam setiap kemaksiatan yang kita lakukan kita telah mengorbankan hak orang lain yang begitu besar”

            Apabila kita berkaca kepada sejarah kemanusiaan disitu akan kita lihat wajah-wajah berseri orang-orang besar dan mulia disebabkan oleh pengorbanan yang telah mereka sumbangkan untuk kemaslahatan umat manusia, di sisi lain kita juga bisa melihat wajah-wajah seram yang mengerikan karena sudah terlalu sering mengorbankan hak orang lain, jadi, orang itu ada yang terkenal karena telah berkorban untuk orang lain, dan ada juga yang terkenal karena telah mengorbankan hak banyak orang.

            Kembali kepada prinsip pengorbanan di atas, maka kita, siapa pun kita , dan apapun posisi yang kita perankan dalam setiap episode kehidupan maka akan bisa meraih kemuliaan di sisi Allah dengan pengorbanan maksimal yang kita berikan atas nama Allah, seorang isteri akan menjadi mulia di hadapan Allah ketika ia telah mengorbankan waktu dan tenaganya dalam mendidik anak-anaknya, serta memberikan pelayanan prima buat suaminya, dan bahkan dalam setiap aktifitas yang dilakukannya bisa bernilai ibadah, begitu juga dengan suami akan menjadi mulia di hadapan Allah TA’ALA disaat ia telah mencurahkan perhatiannya dalam mencari nafkah dan membimbing keluarganya menuju ridho Allah. Seorang pemimpin akan menjadi besar dan mulia di sisi Allah dan juga akan dimuliakan orang lain ketika ia mengorbankan semua kemampuan dan kekuatan (power)nya untuk kebaikan rakyat, bukan untuk mengejar keuntungan pribadi. Begitulah seterusnya.

            Sekali lagi, siapapun kita tetap punya potensi untuk berkorban buat orang lain atau sebaliknya mengorbankan orang lain, dalam al Quran dikatakan : « katakanlah setiap orang akan berbuat sesuai dengan keadaan dan tabiatnya masing-masing, hanya Allah yang lebih tahu siapa yang benar jalannya » (QS : 17/84).

MOTIVASI Oleh: Helmi Basri, Lc. MA


Motivasi memang bukanlah satu-satunya syarat meraih kesuksesan, tetapi tanpa motivasi segalanya akan berjalan lamban bahkan terhenti sama sekali. Dengan motivasi yang kuat seseorang akan begitu mudah  dalam menghadapi berbagai macam rintangan dan hambatan, bahkan bisa menganggap rintangan dan hambatan itu bagaikan tak ada. Dengan motivasi yang kuat perbuatan yang begitu berat dan melelahkan akan terasa ringan, karena apa yang ada di hadapannya jauh lebih berarti dan menjanjikan.

Tengok saja dua ‘asyik ma’syuk dalam ungkapan gombalnya:

Lautanpun akan diseberangi…

Gunungpun akan didaki…

Hujan lebatpun akan tetap diterobos meskipun berpayungkan

daun pisang…

Yang penting bisa ketemu dikau…

Apabila untuk hal-hal yang berbau maksiat saja orang bisa memiliki semangat dan motivasi yang begitu kuat, apalagi untuk sesuatu yang akan menyumbangkan makna yang begitu besar bagi kehidupan kita.. belajar umpamanya, tidakkah kita akan bersikap yang sama? Bahkan harus lebih.

Saya ingin memberikan sebuah contoh sejarah:

Baqiy ibn Makhlad al Andalusy adalah salah seorang tokoh hadits terkenal di dunia Islam. Semangatnya yang tinggi serta  motivasinya yang kuat dalam menuntut ilmu menyebabkan ia memutuskan untuk  meninggalkan Andalus (Spanyol sekarang) menuju Baghdad meskipun dengan jalan kaki, untuk satu tujuan yaitu menjumpai Imam Ahmad Bin Hambal lalu belajar dari beliau. Berjalan berhari-hari bahkan berminggu- minggu berbekalkan roti kering yang disirami air. Setelah sampai di kota Baghdad beliau mampir di sebuah masjid dan menghadiri majlis seseorang yang dinilainya sangat manguasai ilmu hadis, ternyata dia adalah Yahya ibn Main. Kepada beliau Baqiy ibn Makhlad mengatakan bahwa ia datang dari Andalus ingin ketemu dengan Imam Ahmad dan memohon untuk ditunjukkan di mana rumah  Imam tersebut. Ternyata Imam Ahmad sedang dalam tahanan polotik dan dilarang untuk mengajarkan hadis kepada siapa saja. Tetapi Baqiy tetap ngotot ingin ketemu beliau. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya, Imam Ahmad berkata kepada Baqiy: “sesungguhnya saya sekarang berada dalam ancaman pemerintah dan dilarang untuk menyebarkan ilmu kepada siapa saja”. Baqiy ibn Makhlad berkata: wahai imam, saya telah menempuh jarak yang begitu jauh bahkan dengan jalan kaki hanya karena ingin belajar hadis dari kamu, apakah saya akan kembali tanpa membawa hasil apa-apa? Akhirnya mereka berdua sepakat untuk belajar tapi dengan cara yang tidak disadari oleh petugas Negara yang menjaga rumahnya, yaitu dengan cara mendatangi rumah imam Ahmad sambil berpura-pura sebagai pengemis yang meminta-minta. Begitulah yang dilakukan setiap pagi oleh Baqiy ibn Makhlad, datang kerumah Imam Ahmad menjadi pengemis yang meminta-minta tetapi yang diinginkannya adalah hadis, Baqiy berusaha setiap pagi muncul dengan penampilan yang berbeda supaya tidak ketahuan oleh penjaga, sampai akhirnya beliau berhasil mengumpulkan ratusan hadis dari Imam Ahmad.

Kisah di atas hanyalah satu dari sekian banyak kisah serupa yang menggambarkan ketegaran para ulama dulu dalam menghadapi rintangan dalam menuntut ilmu disebabkan oleh semangat dan motivasinya yang tinggi.

Saya yakin dan semua kita tau bahwa para pelajar dan pecinta ilmu hari ini tidak lagi akan menghadapi rintangan dan tantangan seberat itu, karena zaman sudah semakin maju, berbagai fasilitas belajar semuanya sudah ada. Untuk mendapatkan satu hadis nabi tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjalan berhari-hari menemui seorang ahli hadits, tapi cukup dengan membaca karya yang mereka tinggalkan. Bahkan jangankan satu hadits, untuk mengumpulkan puluhan hadits pun dalam hitungan menit bisa dilakukan dengan metode elektronik compact disk.

Semuanya sudah lengkap. Tapi yang kurang mungkin adalah motivasi, tenyata kemajuan dan kecanggihan zaman serta kelengkapan fasilitas yang dimiliki tidak begitu mendukung kalau tanpa motivasi dan semangat yang tinggi. Ketiadaan motivasi menyebabkan seseorang tidak menghargai waktu, kalau waktu sudah tidak dihargai berarti tidak menghargai diri sendiri, karena waktu anda adalah diri anda sendiri.

Di sinilah letak perbedaannya. Para ulama dulu dengan motivasinya yang kuat dan semangatnya yang tinggi meskipun dengan fasilitas yang sangat sederhana, namun mereka telah meraih prestasi yang gemilang. Karya-karya mereka lebih banyak dari jumlah umurnya, mereka telah membangun peradaban. Akan tetapi sekarang dengan segala macam bentuk kemajuan dan kecanggihan yang ada tapi dengan semangat dan motivasi yang kurang tidak mustahil hanya akan menjadi benalu peradaban.

Ayo kuatkan semangat anda dalam belajar. Raihlah prestasi dengan menghargai waktu, awali kesuksesan dengan memiliki motivasi yang kuat. Jangan ragu karena motivasi tidak pernah menggiring kita untuk berfikir tidak realistis…

BETAPA BERHARGANYA SEDETIK WAKTU Oleh: H. Helmi Basri, Lc, MA


Dalam Al Quran kita dapati bahwa Allah Ta’ala banyak sekali bersumpah dengan waktu, bahkan ia telah bersumpah hampir dengan setiap penggalan waktu dalam kehidupan umat manusia. Lihat saja umpamanya: “ demi waktu fajar” (QS 89:1), “demi subuh apabila fajarnya sudah mulai menyingsing” (QS 81” 18), “demi waktu dhuha/matahari sepenggalahan naik” (QS 93: 1), “demi waktu siang apabila terang benderang” (QS 92: 2), “demi malam apabila menutupi cahaya siang” (QS 92: 1), dan bahkan Allah Ta’ala telah bersumpah dengan masa secara keseluruhan tanpa batas (QS 103: 1).

Sumpah Allah Ta’ala dalam setiap penggalan waktu tersebut bukanlah secara kebetulan, akan tetapi Allah Ta’ala ingin mengatakan betapa berharganya setiap detik waktu yang dimiliki. Kesuksesan seseorang dalam hidup akan sangat terkait dengan pemanfaatan setiap detik waktu yang diberikan untuk beramal dan bekarya. Sebaliknya kerugian dan kemunduran akan selalu membayang bayangi siapa saja yang tidak menghargai waktu.

Semua kita punya jumlah waktu yang sama, tapi hasilnya bisa sangat jauh berbeda. Satu jam bagi orang sukses sama dengan satu jamnya orang-orang yang gagal yaitu enam puluh menit. Dan satu hari bagi Negara maju juga sama dengan satu hari bagi Negara miskin dan terkebelakang. Seekor Rusa jika terlambat satu detik saja maka ia akan pasti musnah diterkam singa yang selalu mengintainya. Maka satu detik yang kita miliki akan bisa merubah wajah kehidupan kita. Jika seseorang memiliki keunggulan dari orang lain meskipun hanya dengan hitungan detik maka ia pasti akan menjadi pilihan. Ya manusia pilihan.

Saya ingin memberikan sebuah ilustrasi dengan apa yang pernah diceritakan Allah dalam alquran. Ketika nabi Sulaiman ingin memindahkan singgasana Ratu Balqis ke hadapannya, beliau berkata: wahai para pembesar, siapakah diantara kalian yang sanggup membawa singgasana Balqis  kepadaku sebelum mereka datang? Ketika itu ada dua alternatif tawaran. Yang pertama datang dari jin ‘Ifrit yang mengatakan bahwa dia sanggup melakukannya dalam waktu sekejap dan singgasana itu bisa sampai kehadapan beliau sebelum ia berdiri dari tempat duduknya. Sedangkan tawaran yang kedua datang dari seorang ‘alim yang mengaku sanggup membawanya dalam waktu yang lebih singkat dan cepat yaitu sebelum mata Sulaiman berkedip. Akhirnya pilihan nabi Sulaiman jatuh kepada seorang alim tersebut karena ia mampu berbuat dengan waktu yang lebih cepat meskipun perbedaannya hanya dalam hitungan detik.

Di sinilah pelajaran yang sangat berharga yang bisa kita tarik kesimpulannya bahwa semakin efisien kita memanfaatkan waktu maka keberhasilan  akan semakin menghampiri kita. Hal ini berlaku di semua arena kehidupan seperti dunia pendidikan, politik, bisnis dan lain sebagainya, karena salah satu dari kunci kesuksesan yang sangat menentukan adalah pemanfaatan setiap detik waktu yang dimiliki.

Logika inilah sebetulnya yang ingin ditanamkan oleh Allah Ta’ala kepada hambanya ketika ia bersumpah dengan setiap penggalan waktu dalam kehidupan. Dan kitapun bisa membuktikan hari ini bahwa mayoritas orang-orang besar dan sukses itu adalah mereka yang waktu beramal, beraktifitas dan berkaryanya di atas 15 jam dalam sehari semalam. Sedangkan orang-orang gagal dan miskin adalah mereka yang waktu beraktifitasnya rata-rata di bawah 8 jam dalam sehari. Maka Islam sebenarnya tidak pernah mencintai bermalas-malasan dan yang tidak menghargai waktu meskipun satu detik. Untuk memastikan hal itu saya ingin memetik sebuah ayat Alquran” maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. (QS 94: 7).

Kesempurnaan Kesehatan Yang Berpanjangan Dengan Amalan Herbal


Kesempurnaan Kesehatan Yang Berpanjangan Dengan Amalan Herbal. Untuk Pemesanan Hub. Ismail Akzam 081311334533 “Jagalah Diri Anda Dengan Menjaga Kesehatan” Konsultasi: Email: akzamalbakanbaru@gmail.com


ALBAYAN MANDIRI


     AL-BAYAN

     Baya:n adalah bagian dari Ilmu Balaghah (retorika khas bahasa Arab)[1] yang berkedudukan sama dengan ilmu ma’ani dan ilmu badi’. Sebagai bagian dari Ilmu Balaghah, baya:n terdiri dari tiga pokok bahasan, yaitu tasybi:h, maja:z dan kina:yah. Baya:n dalam arti bahasa adalah kasyf ‘terbuka’,  i:dhah ‘penjelasan”, dan  dhuhu:r ‘jelas”, sedang menurut istilah adalah kaidah-­kaidah yang dipakai untuk mengetahui pengungkapan suatu makna dengan cara yang berbeda-beda dalam kejelasan suatu indikasi rasional terhadap makna yang sama, misalnya:  Ali kari:mun ‘Ali pemurah”, dapat diungkapkan  Ali kal umar  “Ali seperti ‘Umar’, Ali katsi:ru-r rama:d “Ali banyak abu dapurnya’, Ali matharun fi-sy syita:i ‘hujan di musim kemarau” dan sebagainya yang kesemuanya itu mempunyai makna Ali pemurah.

Al-Hasyimi (1960) menyatakan bahwa baya:n merupakan rahasia balaghah.[2] Dengan menguasai pengungkapan   bayani maka seorang penulis atau pembicara dapat mengungkapkan makna dan pesan dalam suatu bentuk bahasa yang cocok dengan situasi dan kondisi (muqtadha-l ha:l), yaitu dengan mempertimbangkan penerima (receiver), pesan (message), lorong (channel), kode, topik,  situasi dan kondisi (Stubbs, 1983:46-47).



[1] Ketika balaghah dikonotasikan dengan retorika, maka kesan mengenai konsep atau definisi tentang balaghah bisa meluas sebagaimana konsep retorika itu sendiri begitu juga daya guna dan manfaatnya. Misalnya, Salah satu definisi retorik adalah keterampilan berkomunikasi secara efektif. Pada intinya retorik adalah seni  keterampilan yang memberdayakan orang untuk membuat pilihan bijak terhadap makna untuk tujuan yang diharapkan. Isocrates mendefinisikan Retorika adalah suatu kemampuan seni, suatu “creative process” (proses kreatif), dan bu-kan suatu ilmu dengan kai-dah-kaidahnya yang ketat.  Retorika erat kaitannya dengan orator. Plato (bapak filsafat Barat) mendefihisikan retotik sebagai kepandaian atau ketangkasan berbicara untuk menyenangkan dan memuaskan pendengar  yang disusun dengan benar dan untuk kebenaran. Menurutnya, seorang ahli retorika harus mengetahui hakekat manusia dan mampu memanajnya secara psikologis, seorang ahli retorika harus menguasai gay bahasa (style) dan cara penyampaian (delivery) , Seorang ahli retorika mempunyai moral yang luhur. Karena itu hakekat reto­rika adalah alat untuk membuat kebenaran yang sejati (sebagaimana kebenaran Tuhan) yang menjadi kebenaran umum dalam kehidupan masyarakat. Menururt Aretoteles, retorika merupakan “coun-terpart” dialektika. Baik retorika maupun dialektika adalah cara menjelaskan suatu masalah. Retorika berkenaan dengan persuasi sedangkan dialektika berkenaan dengan penalaran

Retorika adalah kemampuan seni yang mempunyai bebeapa manfaat. Ada empat man-faat reto­rika yaitu: (1) untuk menegakkan kebenaran dan keadilan serta memberantas kebohongan dan kezaliman, (2) untuk menyampaikan informasi dengan cara-cara yang sesuai dengan masya-rakat umum, (3) untuk menja-min bahwa tidak ada argumen yang terlupakan karena reto-rika meneliti suatu mesalah dari dua sisi, dan (4) untuk mempertahankan diri dari serangan yang tidak adil. Retorika berkaitan dengan:

1.    Wacana masa lalu

2.    Wacana masa kini

 3.  Wacana masa depan

  [2] Dengan rahasia ini Allah dalam Al-Qur’an membungkam para penyair Arab untuk tunduk di bawah sihir bayani, sehingga secara terpaksa atau sukarela mereka harus mengakui keungglan bahasa Al-Qur’an di atas semua bahasa puncak yang berhasil digubah oleh para penyair kenamaan mereka. Dalam hal itu Al-Jabiri menegaskan bahwa istidlal bayani (penalaran berdasar keindahan dan kekuatan sihir bahasa) ini, ternyata merupakan satu bentuk “pemaksaan” epistemologis. Yakni yang berintikan penyelarasan antara hal-hal yang berbeda melalui medium penggambaran inderawi yang cukup efektif untuk membung­kam perbedaan. Pada saat yang sama juga memunculkan ke­serasian di permukaan. Sehingga lawan bicara dirangsang untuk menarik sendiri satu kesimpulan tentang makna yang ditunjukkan secara implisit dan mengarahkannya ke satu pe­ngertian tertentu. Agar ia tidak perlu bertanya-tanya atau meragukannya. “Pemaksaan” epistemologis ini, dalam beberapa kesem­patan, selalu beralih menjadi “pembungkaman”. Khususnya pada saat pembicara atau penulis mencecar pendengar atau pembacanya dengan sederet bentuk-bentuk tasybih yang memukau, yang memberikan rangkaian perumpamaan dan penggambaran inderawi yang tak putus-putusnya. Sehingga cukup efektif untuk mengalihkan pikiran mereka dari satu gagasan ke gagasan berikutnya, tanpa memberi kesempatan bagi mereka untuk bersuara mempertanyakannya (Al-Jabri, Muhammad, Abed. 2000. Post Tradisionalisme Islam. Yogyakarta: LKIS. Hal.:84-85. 

 Bersambung