URGENSI AS-SUNNAH AN NABAWIYAH
Dr. Dasman Yahya Ma`ali, M.A.
dalam Seminar Hadits di Islamic Book Fair 2010,
Senayan, Jakarta
Kamis, 11 Maret 2010
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Pendahuluan
Sesungguhnya Allah Ta’ala, tatkala menciptakan manusia, diciptakan-Nya pula segala sesuatu dan hal yang dibutuhkan oleh mereka. Kebutuhan tersebut ada yang berkaitan dengan kebutuhan untuk hidup yang disebut kebutuhan jasmani, dan ada pula kebutuhan yang berhubungan dengan tujuan hidup yaitu yang disebut dengan kebutuhan rohani. Kedua-dua kebutuhan ini sangat penting dan mendasar. Dan demi kelangsungan hidup makhluk, Allah ciptakan bumi dengan segala perbendaharaan yang ada padanya sebagai rezki yang cukup untuk semua penghuninya.
وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها ويعلم مستقرها ومستودعها. كل في كتاب مبين (هود: 6)
“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. QS. Huud: 6
Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan kedua, Allah berikan pula kepada akal dan ilmu pengetahuan yang dengannya manusia mengenali tujuan hidupnya. Namun, dengan mengenali tujuan, belum tentu sese-orang mengetahui jalan dan cara agar sampai ke tujuan tersebut. Oleh sebab itu, Allah tidak membiarkan hamba-Nya terombang-ambing dan kebingungan di perjalanan. Allah lalu memberi mereka petunjuk jalan yang benar-benar dapat dipercaya.
Dia menjadikan petunjuk tersebut melalui dua hal:
Pertama: melalui fitrah.
Allah telah menciptakan manusia di atas fitrah/ Islam, beriman dan menyerah kepada Allah. Semua manusia diciptakan dengan fitrah ini tanpa kecuali. Allah Ta’ala berfirman:
قأقم وجهك للدين حنيفا. فطرت الله التي فطر الناس عليها. لا تبديل لخلق الله. ذلك الدين القيم ولكنّ أكثر الناس لا يعلمون
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetap-lah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. QS. Ar Ruum: 30
Dalam hal ini, Rasullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
(( مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه)). رواه البخاري ومسلم
“Tiada satupun bayi yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah (Islam), sehingga kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani ataupun Majusi”. HR. Al Bukhary dan Muslim
Dari kedua ayat dan hadits di atas, jelas sekali bahwa pada dasarnya semua manusia terlahir dalam keadaan Islam, yaitu fitrah. Sebab, kalaulah fitrah bukan Islam, tentu Nabi SAW menambahkan: “Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya …… Islam”.
Demikianlah sesungguhnya Allah menciptakan manusia, selama fitrah tersebut masih suci, bersih dan tidak terkontaminasi, pasti seorang anak manusia cenderung menerima Islam.
Kedua: Hidayah Allah haturkan melalui wahyu yang disampaikan kepada para nabi dan rosul yang diutusnya. Mereka diutus Allah dan dipilihnya untuk menyampaikan firman-firman, aturan-aturan dan hukum-hukumnya. Diutusnya para nabi dan rosul tersebut adalah sebagai bentuk keadilan Allah dan sebagai hujjah-Nya kepada hamba-hamba-Nya di saat Dia melakukan perhitungan kelak terhadap amal-amal yang telah mereka perbuat di dunia.
Allah mengutus para nabi dan rasul tersebut sebagai penjelas dan penerang maksud Allah kepada hamba-hambaNya. Untuk itu Allah memberikan wahyu lain kepada mereka berupa hadits atau sunnah. Allah mengutus para nabi dan rasul tersebut dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, karena manusia dengan segenap kelengkapan pencipta-annya; akal yang cerdas, pemahaman yang dalam, analisa yang tajam dan otak yang brilian, tanpa bimbingan wahyu Al Quran dan hadits, tetap saja tidak mampu mencerna dan mengetahui dengan pasti dan benar apa yang dihendaki Allah dari hamba-hamba-Nya. Mereka selamanya akan ber-selisih paham, karena memang tingkat penalaran seseorang akan berbeda dari penalaran yang lain. Inilah ciri khasnya sesuatu yang datang dari selain Allah. Allah berfirman:
أفلا يتدبرون القرآن. ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلفا كثيرا. (النساء: 82)
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertenta-ngan yang banyak di dalamnya.” QS. An- Nisaa’: 82
Maka untuk meredam berbagai perselisihan dan perbedaan tersebut, Allah mengutus para nabi nabi dan rasul untuk menyatukan pemahaman dan persepsi. Setiap nabi diutus khusus kepada kaumnya. Namun, nabi kita, karena beliau adalah nabi penutup dan terakhir, maka beliau diutus untuk segenap manusia. Beliau yang datang menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang diinginkan Allah dari hamba-hamba-Nya. Beliau belum diwafatkan kecuali setelah agama ini sempurna disampaikan dan dijelaskannya. Allah berfirman:
اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا (المائدة : 3)
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” QS. Al Maa-idah: 3
Pada generasi awal umat Islam, tidak ada perbedaan di kalangan umat bahwa dasar utama beragama adalah firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Mereka sepakat mengembalikan segala permasalahan yang mereka perselisihkan kepada keduanya, karena memang demikianlah perintah Allah. Allah berfirman:
ياأيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولى الأمر متكم. فإن تنازعتم في شيء فردّوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الأخر. ذلك خير وأحسن تأويلا (النساء: 59)
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri (umara’ dan ulama) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. QS. An-Nisaa’: 59
Demikian pula generasi sesudah sahabat (tabi`in), mereka juga sama. Oleh sebab itu, pertanyaan yang selalu mereka lontarkan kepada sahabat; “Bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan dalam masalah ini? Bagaimana sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam situasi ini?”, dan seterusnya.
Dan orang-orang sesudah merekapun, yang tetap berdiri di atas jalan kebenaran juga mengikuti metode ini. Namun di saat ilmu kurang diminati, ulama kurang dihormati dan para penyeru kebenaran diwanti-wanti, terjadilah berbagai perbedaan dan perselisihan di kalangan umat, sehingga orang yang tidak berilmu tampil sebagai ulama, orang yang tidak berkompeten berbicara tentang agama tampil berbicara dan orang-orang yang seharusnya diam berani pula berkomentar bahkan berfatwa, persis seperti yang diperingatkan Nabi shallallahu `alaihi wasallam dalam haditsnya:
((إِنَّ الله لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوْسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا)). رواه البخاري ومسلم.
“Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya dari hamba-hamba-Nya. Akan tetapi ia mengambil ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga bila tidak ada lagi seorang ulama yang tinggal, manusia menjadikan orang-orang jahil sebagai pemuka. Mereka lalu ditanya, kemudian menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat lagi menyesatkan”. HR. Al-Bukhary dan Muslim
Kondisi ini dipandang oleh para musuh Islam dari kalangan kafirin dan musyrikin sebagai peluang emas untuk semakin menjerumuskan umat ke jurang perbedaan yang semakin dalam dan terjal. Mereka berusaha keras dan mengeluarkan biaya besar guna mendidik dan mengkader para pemuda dan tokoh muslim untuk menjauhkan mereka dari nash-nash Al Quran dan hadits, atau, minimal, walaupun masih memakai keduanya, namun mesti dipahami jauh dari yang diinginkan Al Quran dan hadits itu sendiri.
Nah, demi menyelamatkan umat dari kancah perselisahan, penyesatan sistematis dan pertengkaran yang tak berkesudahan yang akan menghanguskan mereka, perlu adanya usaha-usaha intensif dari kita kaum muslimin dalam setiap level dan di segenap lini, untuk menjelaskan kepada umat bagaimana seharusnya mereka berhadapan dengan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah. Di samping itu, menjelaskan kepada umat kesesatan dan penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang terpedaya dan tidak mau belajar Islam kepada ulama kaum muslimin, tetapi sebaliknya belajar kepada orang-orang kafir dan musyrik yang tidak percaya kepada Islam, dengan alasan objektifitas ilmiah. Sejak kapan orang-orang kafir itu objektif dan jujur menilai Islam? Walaupun ada segelintir mereka yang jujur, tentu akan sama atau mirip hasil kajian dan penelitiannya dengan ulama kaum muslimin.
Apa yang penulis ingin tuangkan dalam tulisan ini adalah sebagian dari usaha kita untuk menyegarkan dan menyadarkan umat pada pemahaman shahih, yang -insya Allah- diridhai Allah dan sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, tanpa mengabaikan pula objektifitas ilmiah. Semoga bermanfaat.
Jakarta,
Kamis, 11 Maret 2010







